Kamis, 29 Oktober 2020

FILOSOFI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA “MENGHAMBA KEPADA SANG ANAK” OLEH : RUSNILAWARNI_CGP KAB. BONE_SULSEL

                                     FILOSOFI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

“MENGHAMBA KEPADA SANG ANAK”

OLEH : RUSNILAWARNI_CGP KAB. BONE_SULSEL

 


Jauh sebelum Indonesia merdeka ternyata bangsa ini telah melahirkan sosok yang sangat luar biasa, yang telah berhasil membuka cakrawala berpikir tentang Pendidikan. Beliau memang pantas diberi gelar Bapak Pendidikan. Ki Hajar Dewantara, selama ini kita akrab dengan pemikiran beliau namun belum kita terapkan dengan baik. Tiga falsafah pendidikan yang populer dari KHD yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso , dan Tut Wuri Handayani.

Ing ngarso sung tulodo (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan). Sebagai seorang guru kita terlalu banyak menuntut kepada siswa tapi lupa bercermin, sudah pantaskah kita menjadi seorang guru? Sejatinya seorang guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru. Berawal dari hal kecil yang kita anggap sepele mungkin menjadi hal yang terekam dengan baik di memori siswa kita. Terlambat masuk ke kelas atau mengakhiri pelajaran sebelum waktunya, dianggap sebagai suatu hal sepele padahal mungkin kita menghukum siswa yang datang terlambat atau berbolos. Duduk diatas meja ketika mengajar, asyik dengan gawai kita ketika siswa mengerjakan tugas dan banyak hal sepele lain yang kita anggap benar untuk dilakukan didepan siswa. Bagi KHD para guru hendaknya mejadi menjadi sosok pribadi yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik. Seorang guru harus mempersiapkan anak didiknya menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia sesuai dengan Profil Pancasila. Tapi tentunya hal ini akan mustahil terwujud jika guru tidak pantas untuk digugu dan ditiru. Guru harus paham betul perannya sebagai role model.

Ing madya mangun karsa (ditengah atau diantara murid, guru menciptakan prakarsa dan ide). Peran seorang guru tidak cukup hanya dengan menjadi role model yang baik. Guru juga harus mampu menjadi fasilitator. Setiap anak memiliki kodratnya masing-masing, guru harus memahami dengan baik setiap karakter dan kebutuhan siswanya. KHD menggambarkan pendidikan ibarat dunia pertanian, setiap benih memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkannya dengan subur dan menghasilkan buah. Menurut KHD seorang guru harus menuntun bukan menuntut, menuntun anak sesuai dengan kodratnya yakni kodrat alam dan kodrat zaman.  Setiap anak memiliki keunikan masing-masing, berasal dari lingkungan yang berbeda ini yang dimaksud dengan kodrat alam. Menghadirkan model pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat siswa merupakan suatu hal yang sangat penting, beberapa anak mungkin senang duduk diam saat belajar namun tidak sedikit yang senang belajar ketika sambil melakukan aktivitas. Lingkungan sekolah dan tempat tinggal anak juga akan sangat mempengaruhi kondisi belajarnya. Kondisi siswa yang berada di perkotaan dan di pedesaan tentunya sangat jauh berbeda, guru harus betul tahu bagaimana cara mengeksplor hal-hal yang ada disekitar anak. Hal kedua yang juga perlu dipahami guru dengan baik adalah kodrat zaman. Zaman terus bergerak maju dan mustahil jalan ditempat apalagi melangkah mundur. Zaman anak kita sangat jauh berbeda dengan zaman kita. Guru harus terus mengembangkan kemampuannya sesuai dengan zaman dan mempersiapkan anak didiknya untuk mampu menghadapi tantagan zaman yang akan datang. Tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang melekat pada jiwa dan diri sang anak agar anak tumbuh menjadi manusia dan anggota masyarakat yang selamat dan mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tuntunlah mereka dengan mengolah cipta, rasa, karsa, dan raga secara holistik agar menjadi generasi yang cerdas, kuat dan bijaksana serta menjadi anggota masyarakat yang berguna. Selama ini yang saya yakini bahwa anak itu ibarat kertas kosong, dimana guru berhak memberi warna sesuka hatinya, sesuatu yang keliru dan perlu untuk diperbaiki karena tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baik.

Guru sebagai seorang fasilitator harus paham betul dengan hal apa yang harus dikembangkan pada diri siswanya agar menjadi sosok dengan Profil Pancasila. Hadirkan jiwa kreatif dengan memberi kegiatan yang mengasah kreatifitas mereka, biasakan mereka memecahkan permasalah yang dihadapi agar mereka tumbuh menjadi anak yang memiliki kemampuan bernalar kritis dan mandiri. Biasakan mereka berkolaborasi dengan teman dan orang disekitarnya agar paham bahwa gotong royong itu penting untuk menghadapi tantangan masa depan dan menyadari bahwa bangsa ini Bhineka Tunggal Ika.  


Tut wuri handayani (dari belakang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Sesuai dengan pemikiran KHD tentang Sistem Among bahwa seorang guru mendidik dengan penuh perhatian agar dapat memastikan setiap anak tumbuh sesuai kodratnya masing-masing. Satu kesalahan besar yang dilakukan selama ini adalah menganggap bahwa guru satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Padahal setiap anak berhak merasakan merdeka belajar. Mereka bebas menentukan cara belajar yang mereka sukai sesuai dengan minat mereka. Guru harus bertindak sebagai motivator yang baik agar setiap anak dapat bersemangat mengembangkan bakat yang mereka miliki. Hukuman yang sifatnya tidak mendidik dan melakukan pemaksaan terhadap anak merupakan hal yang terlarang dilakukan dalam dunia pendidikan. Seorang guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang humanis, berpihak kepada anak namun tetap mengarahkan anak agar tetap menyadari perannya sebagai manusia social yang hidup ditengah masyarakat yang penuh keberagaman dan tantangan. Setiap anak wajib dipersiapkan untuk memiliki budi pekerti yang baik, dapat dilakukan dengan pembiasaan dari hal kecil seperti budaya salam dan sapa, hormat kepada guru orang tua serta menghargai teman serta pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah belajar.




Menjadi seorang guru memang bukan persoalan panggilan profesi melainkan panggilan hati untuk menciptakan peradaban bangsa. Kesuksesan seorang guru tidak hanya diukur sebatas nilai ujian siswa yang tinggi, melainkan diukur dari seberapa berhasil guru menciptakan generasi merdeka yang cerdas, baik budi pekertinya, sehat jiwa dan raganya serta berguna bagi masyarakat dan bangsa. Tetapi, semua amanah ini tidak semata-mata menjadi beban guru sebagai ujung tombak pendidikan. Selain 3 falsafah pendidikan yang telah diuraikan di atas, ada 3 falsafah lain yang diungkap oleh KHD yakni Tri Pusat Pendidikan. Lingkungan pendidikan menurut KHD adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah , dan lingkungan masyarakat.

Selama ini kita ada pemahaman keliru yang hampir dilakukan oleh semua orang tua. Orang tua membebankan dan menyerahkan seluruh proses pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Pihak sekolah pun demikian merasa orang tua tidak perlu turut campur dalam urusan pendidikan anaknya. Padahal keluarga adalah madrasah pertama bagi anak, pengalaman belajar pertama anak diperoleh dari keluarganya. Setiap orang tua juga bertanggung jawab dalam menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan pendidikan dasar moral serta meletakkan dasar-dasar pendidikan agama. Namun kita sadari secara bersama lingkungan sekolah juga sangat perlu untuk melengkapi kebutuhan pendidikan anak. Lingkungan sekolah berperan untuk mengembangkan ilmu pengetahun dan bakat anak. Kerja sama yang baik antara lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga sangat penting untuk dilakukan agar setiap anak dapat berkembang secara seimbang. Lingkungan masyarakat juga memberikan pengaruh besar dalam proses pendidikan seorang anak, lingkungan positif akan membawa dampak baik bagi perkembangan anak begitupun sebaliknya. Masyarakat disekitar anak juga dapat menjadi sumber belajar dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Sejatinya kolobarasi yang baik antara lingkungan keluargam lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat sangat berarti dalam mecapai tujuan pendidikan. Pendidikan yang semata-mata hanya menekankan pada kemapuan intelektual semata akan menciptakan generasi yang tidak peka terhadapan lingkungan sekitarnya. Siapkan anak memiliki daya jiwa yaitu cipta, rasam dan karya serta raga yang kuat.

Pemikiran KHD membuka cakrawala pemikiran kita bahwa pendidikan tidak hanya semata-mata pada kemapuan kognitif anak, tetapi kemampuan psikimotorik dan afektif juga tidak kalah penting. Maka jadilah guru dan pembelajar. Seorang guru adalah pembelajar sejati, tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengembangkan kemampuan karena setiap anak manusia memiliki kodratnya masing-masing yang merupakan rahmat dari Sang Pencipta. Jalani profesi karena panggilan hati bukan sekedar menunaikan kewajiban karena kita adalah “hamba”

 


Sebuah karya hasil pemikiran filosofi pemikiran Ki Hajar Dewatara.

https://youtu.be/knZRyFp80s4

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

 


Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

Judul Modul : 1.1..a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Nama Peserta : Rusnilawarni

Latar belakang :

Saatnya Bekerja untuk Iklim: UPT SMA Negeri 16 Bone Tampilkan Inovasi dan Kampanye Pengelolaan Sampah pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

"Bumi tidak membutuhkan segelintir orang yang hidup sempurna dalam menjaga lingkungan, tetapi membutuhkan jutaan orang yang mau mulai p...