Minggu, 07 Juni 2026

Saatnya Bekerja untuk Iklim: UPT SMA Negeri 16 Bone Tampilkan Inovasi dan Kampanye Pengelolaan Sampah pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026




"Bumi tidak membutuhkan segelintir orang yang hidup sempurna dalam menjaga lingkungan, tetapi membutuhkan jutaan orang yang mau mulai peduli dari hal-hal sederhana."

Semangat itulah yang dibawa oleh keluarga besar UPT SMA Negeri 16 Bone saat mengikuti Pameran Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 yang mengusung tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim." Melalui kegiatan ini, sekolah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya diwujudkan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui aksi nyata dan inovasi yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Sejak pagi hari, stand pameran UPT SMA Negeri 16 Bone telah dipenuhi berbagai hasil karya inovasi peserta didik. Beragam produk ramah lingkungan dipamerkan sebagai bukti bahwa kreativitas siswa mampu menjadi solusi sederhana bagi berbagai persoalan lingkungan. Setiap karya lahir dari proses belajar yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap alam.

Peserta didik dengan penuh percaya diri menjelaskan kepada setiap pengunjung mengenai proses pembuatan, manfaat, serta dampak positif dari inovasi yang mereka hasilkan. Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan serta diskusi yang berlangsung di stand pameran. Momen ini menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga bagi siswa karena mereka tidak hanya menjadi peserta pameran, tetapi juga berperan sebagai duta lingkungan yang menyampaikan pesan-pesan pelestarian alam kepada masyarakat.

Kehadiran Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, bersama jajaran pemerintah daerah serta berbagai tamu undangan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar UPT SMA Negeri 16 Bone. Mereka mengunjungi stand sekolah, mengamati berbagai karya inovasi yang dipamerkan, berdialog dengan peserta didik, serta memberikan apresiasi atas kreativitas dan komitmen sekolah dalam mendukung pelestarian lingkungan.

Selain memamerkan hasil karya inovasi, tim UPT SMA Negeri 16 Bone juga melaksanakan kampanye pengelolaan sampah kepada masyarakat. Melalui media edukasi yang menarik dan komunikasi langsung dengan para pengunjung, siswa mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari.

Kampanye tersebut mendapat sambutan yang sangat baik. Warga, pelajar, mahasiswa, hingga berbagai perwakilan instansi tampak antusias berdiskusi mengenai pengelolaan sampah dan berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Suasana stand menjadi ruang belajar bersama, tempat bertemunya ide, pengalaman, dan semangat untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Keikutsertaan UPT SMA Negeri 16 Bone dalam pameran ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam mendukung Program Adiwiyata sekaligus membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan. Sekolah meyakini bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim" menjadi pengingat bahwa tantangan perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama. Setiap tindakan sederhana, mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, memanfaatkan kembali barang bekas, hingga menghasilkan inovasi ramah lingkungan, merupakan kontribusi nyata dalam menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Semoga keikutsertaan UPT SMA Negeri 16 Bone dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terus bergerak bersama menjaga lingkungan. Karena pada akhirnya, mencintai bumi bukan hanya sebuah slogan, melainkan sebuah tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri, dari sekolah, dan dari lingkungan sekitar.

Rabu, 22 April 2026

Memperingati Hari Bumi 2026, UPT SMA Negeri 16 Bone Gelar Aksi Pungut dan Pilah Sampah Plastik


22 April 2026

"Bumi yang bersih bukan warisan dari leluhur, melainkan titipan yang harus kita jaga untuk generasi mendatang."

Dalam rangka memperingati Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, UPT SMA Negeri 16 Bone melaksanakan Aksi Pungut dan Pilah Sampah Plastik sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program Adiwiyata yang bertujuan membangun budaya peduli lingkungan sekaligus mengajak seluruh warga sekolah untuk mengambil peran nyata dalam mengurangi pencemaran akibat sampah plastik.

Sejak pagi hari, peserta didik bersama guru dan tenaga kependidikan bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah dan area di sekitarnya. Dengan membawa karung dan peralatan kebersihan, mereka memungut berbagai jenis sampah yang ditemukan, kemudian memilahnya berdasarkan jenisnya, khususnya sampah plastik yang memiliki potensi untuk didaur ulang.

Kegiatan ini tidak sekadar berfokus pada membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mengajarkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Melalui proses pemilahan, peserta didik belajar mengenali perbedaan antara sampah yang masih memiliki nilai guna dan sampah yang memerlukan penanganan khusus. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan positif yang terus diterapkan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Momentum Hari Bumi juga dimanfaatkan untuk mengingatkan seluruh warga sekolah bahwa sampah plastik merupakan salah satu tantangan lingkungan terbesar saat ini. Plastik yang sulit terurai dapat mencemari tanah, sungai, bahkan laut apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, langkah sederhana seperti memungut sampah, memilah sesuai jenisnya, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian bumi. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan aksi yang dilaksanakan, yaitu mencegah penumpukan limbah plastik yang sulit terurai di alam.

Selama kegiatan berlangsung, semangat gotong royong dan kepedulian terlihat dari antusiasme seluruh peserta. Mereka saling bekerja sama membersihkan setiap sudut lingkungan, berdiskusi mengenai pentingnya pengelolaan sampah, serta saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Melalui kegiatan ini, UPT SMA Negeri 16 Bone kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan sekolah yang berbudaya lingkungan. Program Adiwiyata tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan sekolah, tetapi juga melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh warga sekolah dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Peringatan Hari Bumi tahun ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi tidak harus dimulai dari langkah besar. Justru perubahan yang berkelanjutan lahir dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Semoga semangat Hari Bumi tidak berhenti pada satu hari peringatan, tetapi menjadi budaya yang terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap tindakan kecil yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak besar bagi kelestarian bumi di masa depan.


 

Senin, 12 April 2021

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Modul 3.1.a.8

Koneksi Antar Materi

Rusnilawarni_CGP Kab. Bone_Angkatan1_SMAN16Bone



Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

“Teaching Kids To Count is Fine But Teaching Them What Counts is Best”

(Mengajarkan anak tentang ilmu berhitung adalah baik, namun mengajarkan mereka apa yang  berharga/utama adalah yang terbaik)
“Bob Talbert”


Seorang pemimpin pembelajaran adalah sosok yang dapat memberikan kontribusi pada proses pembelajaran murid. Berdasarkan kutipan di atas jelas sekali tergambar bahwa seorang guru yang sejatinya adalah pemimpin pembelajaran dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Murid tidak hanya diberikan pendidikan tetapi juga pengajaran. Setiap anak diberikan haknya untuk tumbuh sesuai dengan kodratnya,diberikan ruang dan stimulus yang baik agar dapat menjadi generasi yang cerdas, kuat dan bijaksana serta mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. 

Mewujudkan murid yang merdeka belajar dan memiliki profil Pancasila adalah tujuan yang harus dicapai seorang pemimpin pembelajaran. Hal ini membutuhkan karakter yang kuat pada diri seorang pemimpin pembelajaran. Sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara yang kita kenal dengan Pratap Triloka. Tiga falsafah pendidikan tersebut yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso , dan Tut Wuri Handayani.

Ing ngarsa sung tulodo (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan). Sebagai seorang guru kita terlalu banyak menuntut kepada siswa tapi lupa bercermin, sudah pantaskah kita menjadi seorang guru? Sejatinya seorang guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru.  Ing madya mangun karsa (ditengah atau diantara murid, guru menciptakan prakarsa dan ide). Peran seorang guru tidak cukup hanya dengan menjadi role model yang baik. Guru juga harus mampu menjadi fasilitator. Setiap anak memiliki kodratnya masing-masing, guru harus memahami dengan baik setiap karakter dan kebutuhan siswanya. Tut wuri handayani (dari belakang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Sesuai dengan pemikiran KHD tentang Sistem Among bahwa seorang guru mendidik dengan penuh perhatian agar dapat memastikan setiap anak tumbuh sesuai kodratnya masing-masing. 

Berdasarkan 3 filosofi tersebut jelas sekali mengambarkan bagaimana seharusnya karakter seorang pemimpin pembelajaran. Dalam mementukan proses pembelajaran di kelas harus diputuskan dengan baik, banyak hal yang perlu dipertimbangan. Tentunya seorang pemimpin pembelajaran akan dihadapkan pada berbagai kondisi yang kompleks. Semua keputusan yang diambil harus dipertimbangkan dengan baik, terkadang dalam mengambil keputusan akan dihadapakan pada beberapa pilihan yang memunculkan dilema. Pada kasus tertentu keputusan yang diambil akan memberikan dampak pada banyak pihak dan memberi efek jangka panjang maupun jangka pendek, bersinggungan dengan peraturan dan bahkan tidak jarang terkait dengan rasa empati terhadap orang lain. 2 hal penting yang harus dipertimbangan dengan baik apakah kasus yang dihadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral. Suatu keputusan akan menjadi sebuah dilema etika ketika dihadapkan pada pilihan yang keduanya benar secara moral namun saling bertentangan misal memilih untuk menjaga anak yang sedang sakit atau menjalankan tugas mengajar. Tetapi jika keputusan yang diambil terkait dengan benar dan salah misal membiarkan murid menyontek atau menegur adalah situasi bujukan moral.

Setelah mampu untuk membedakan antara dilema etika dan bujukan moral seorang pemimpim pembelajaran harus menentukan keputusan yang akan diambil. Pengambilan keputusan yang baik harus mempertimbangkan 4 paradigma dan 3 prinsip  serta 9 langkah dalam pengambilan keputusan. 4 paradigma dalam pengambilan keputusan yaitu individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan , jangka pendek lawan jangka panjang. Setelah menentukan paradigma yang tepat maka dalam menentukan keputusan apa yang akan diambil, maka seorang pemimpin pembelajaran harus menetukan prinsip apa yang akan digunakan diantaranya berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan atau berpikir berbasis rasa peduli. Selanjutnya agar keputusan yang diambil tepat dan memberikan manfaat serta pengalaman positif maka perlu mempertimbangkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu mengetahui adanya nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, menguji benar atau salah, menguji paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, melakukan investigasi opsi trilema, mengambil keputusan dan melakukan refleksi.

Apa yang telah dipaparkan tentunya tidak akan mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan pembiasaan dan latihan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan rasa percaya diri dan keberanian pada diri seorang pengambil keputusan. Melakukan komunikasi asertif untuk mengenali masalah yang dihadapi sangat penting untuk dilakukan. Mengidentifikasi dengan baik setiap potensi dan tantangan yang dihadapi tentunya akan membantu dalam mengambil keputusan yang benar. Jika kita kembali mengingat tentang teknik coaching yang membutuhkan ketepatan mengenali masalah yang dihadapi oleh coachee serta memberikan pertanyaan yang dapat menggali hal-hal apa yang dialami dan mengarahkan untuk menentukan apa yang akan dilakukan dilakukan semua ini sangat terkait dengan proses pengambilan keputusan. Kedua komptensi ini merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam diri seorang pemimpin pembelajaran. Jika hal ini mampu untuk terapkan dengan baik maka kemampuan dalam diri seorang anak mampu untuk dikembangkan dengan baik dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Tujuan untuk memberikan pembelajaran yang merdeka dan murid dengan profil Pacasila akan terwujud. 

Sejatinya seorang pemimpin pembelajaran adalah sosok yang mampu mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi masa depan murid-muridnya.


Salam dan Bahagia


Kamis, 25 Maret 2021

 

KONEKSI ANTAR MATERI

COACHING

(RUSNILAWARNI_CGP KAB. BONE)

 

Selama ini kita merasa telah melakukan pendampingan yang baik saat mememui murid yang mengalami masalah, namun masih banyak yang tidak berhasil mencapai apa yang diharapkan. Hal ini tidak jarang membuat kita berputus asa dan menganggap murid yang gagal. Padahal cara kita yang masih belum maksimal. Setelah mempelajari materi terkait coaching dan model TIRTA saya lebih menyadari kesalahan yang terjadi selama ini, dan hal apa saja yang harus diperbaiki dan tingkatkan. Seorang guru harus paham betul perannya agar murid menjadi sukses dalam mencapai tujuan. Agar seorang guru sukses menjadi coach hal yang perlu dipahami dengan baik adalah bagaimana menjadi sefrekuensi dengan murid. Sefrekuensi dalam hal ini adalah menyeleraskan emosi, menyamakan bahasa dan memahami gestur coachee dengan baik. Olehnya seorang guru harus terus berlatih agar sukses menjadi coach.

Jika kita memahami makna yang terkandung dalam definisi coaching membawa kita pada pertanyaan, “Apakah dengan demikian coaching ini bisa diterapkan di dunia pendidikan sehingga bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik guru maupun murid?” Apakah guru dapat berperan sebagai coach? Mari kita sama-sama membahas bagaimana coaching ini diterapkan dalam konteks sekolah dan bagaimanakah peran guru sebagai coach.

Mengapa coaching ini perlu untuk diterapkan.

Mari kita kembali mengingat filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD). Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. 

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.

Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi  inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching.

Nah, langkah pertama apa yang harus dilakukan pada saat melakukan coching. Sebelum memulai tahapan coaching terlebih dahulu coach meminta persetujuan coachee apakah bersedia untuk melakukan kegiatan coaching ini. Kemudian menyakan perasaan coachee saat itu. Setelah memberikan 2 pertanyaan terbuka tersebut, barulah coach mulai melakukan tahapan TIRTA.

Tujuan Umum 

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee. Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Identifikasi

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
f. Apa solusinya?

Rencana Aksi

a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?

TAnggungjawab

a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

Berbagi Tips

Cara yang dilakukan coach  dalam memberi respon terhadap coachee yaitu terus memberi respon positif, yaitu dengan cara melakukan komunikasi asertif. Di mana pada komunikas dapat dilakukan dengan :

 

 

1.   Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

Kata-kata kunci biasanya merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.

Sebagai contoh, jika murid menggunakan bahasa dan istilah kekinian dalam bercerita, kita dapat juga menggunakan istilah yang dipakai ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi pernyataannya.

Misal: penggunaan kata Ohh yang menunjukkan bahwa coach paham apa yang  dikatakan coachee, atau pada saat coach menggunakan kata Nahh, yang saat coachee berhasil menemukan hal apa yang akan dilakukan, yang menunjukkan bahawa coach setuju.

2.  Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.

Coach dapat memberikan tanda setuju secara tidak langsung pada apa yang disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan. Jika coachee kita sedang bersandar ke lengan kursi misalnya, coach juga dapat mengikuti gerakannya. Ketika coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kita juga usahakan  mengikutinya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru.

Contoh pada video, coach akan terlihat tersenyum saat coachee menunjukkan mind mapping pada buku catatannya atau saat coach mengerakkan tangan saat menjelaskan tentang apa yang dimaksud mind mapping sehingga coachee menjadi lebih paham.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Contoh:

Coachee : “Saya memang perlu seseorang untuk membicarakan hal yang saya alami.”

Coach  : “Jadi apa nih yang bisa ibu bantu?”

Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.

 

Praktik caoching model TIRTA ini dapat dipraktikkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah. Tantangan utama adalah bagaimana menerapkan komunikasi asertif. Kendala dan tantang yang terkadang  muncul adalah masih kurang sabar dalam menjalin komunikasi dengan murid maupun orang lain, masih sering mengambil keputusan dan lebih aktif memberi solusi dibanding mengarahkan murid atau orang lain untuk menemukan sendiri langkah yang ingin diambil.

Demikian ulasan saya, semoga dapat menjadi menjadi tambahan infromasi .

Sukses untuk kita semua.

Salam dan Bahagia.

 

(Sumber : modul 2.3 coaching)



 

 

 

Senin, 08 Maret 2021

 

KONEKSI ANTAR MATERI

PEMBELAJARAN SOSIAL DAN  EMOSI

 

(RUSNILAWARNI CGP KAB. BONE )

Pembelajaran sosial dan emosi merupakan pembelajaran yang mengarahkan anak untuk memiliki kesadaran penuh (mindfulness). Pembelajaran ini dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk (1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi, (2) menetapkan dan mencapai tujuan positif (3) merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta,(5)membuat keputusan yang bertanggungjawab. 

Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup: 

  1. Rutin:  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca  setelah jam makan siang
  2. Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi  kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.
  3. Protokol: menjadi budaya atau aturan  sekolah yang  sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau  sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menyelesaikan konflik  yang terjadi dengan membicarakannya tanpa kekerasan,  mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll.

Sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan suatu proses menuntun segala kodrat yang ada pada diri anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pembelajaran sosial dan emosi (KSE) mengarahkan anak untuk dapat memiliki kompetensi pengenalan emosis, pengelolaan diri, kesadaran sosial (keterampilan berempati), keterampilan berhubungan sosial (resiliensi) dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Jika anak terbiasa diberi keterampilan-keterampilan tersebut maka mereka akan tumbuh menjadi manusia merdeka dan memiliki profile pancasila. Mengapa ? karena semua kompetensi pada KSE ini mengarah ke 6 profile Pancasila yang diharapkan ada pada diri murid.

Namun, KSE ini tidak hanya diharapkan dimiliki oleh murid saja. Seorang guru juga harus memiliki kesadaran penuh. Kita sadari betul bahwa profesi seorang guru memiliki tantangan yang sangat kompleks. Beban tugas yang mengajar ditambah beban tugas tambahan dan tugas keluarga. Tentunya seorang guru harus mampu untuk mengelola emosi dengan baik. Hal ini tidak dapat terwujud jika tidak memiliki kesadaran penuh dalam dirinya. Guru harus mampu memahami setiap karakter murid dan memberikan respon yang selalu positif. Oleh karena itu berbagai teknik dalam KSE seperti STOP harus diterapkan dan dikuasi oleh seorang guru.

Salam dan Bahagia



 

Jumat, 05 Maret 2021


 RENCANA PEMBELAJARAN DARING

BERBASIS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI 

TERINTEGRASI KOMPETENSI SOSIAL - EMOSIONAL (KSE)



        Pembelajaran sosial dan emosional  ini diawali dengan kesadaran penuh bahwa   tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan  seseorang. 

        Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal, peran guru sangatlah penting.   Sebelum guru dapat membantu murid, ia perlu belajar memahami, mengelola, dan  menerapkan pembelajaran sosial dan emosional  dalam dirinya.  

        Kompetensi kesadaran sosial emosional (KSE), dapat diterapkan dalam berbagai teknik. Teknik-teknik KSE ini dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga akan menjadi pembiasaan baik bagi murid.

        Berikut saya menyusun RPP yang terintegrasi kompetensi sosial emosional. 


# Demonstrasi Konstektual

# CGP Kab. Bone Angkatan 1 



Minggu, 14 Februari 2021

 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

(Mewujudkan Merdeka Belajar Bagi Murid Dan Guru)



Mengingat kembali filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara yakni setiap anak memiliki kodratnya masing-masing yakni kodrat alam dan kodrat zaman. Dalam proses pembelajaran seorang guru harus betul-betul memahami kondisi muridnya, namun hal ini mustahil dilakukan oleh guru tanpa adanya kerjasama dengan murid itu sendiri. Murid dan guru merdeka belajar harus saling berkolaborasi bersama menggali dan mengembangkan potensi dengan mengakomodasi karakteristik masing-masing murid untuk mewujudkan rasa aman, nyaman dan bermakna selama proses pembelajaraan. Salah upaya dalam mewujudkan hal ini adalah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk mendapatkan konten, mengolah, membangun, atau menalar gagasan, dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua murid didalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing murid. 

Konsep dasar pembelajaran berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang berorientasi pada murid dimana seorang guru harus mengacu pada terciptanya lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar untuk mencapai tujuan belajar, kurikulum yang difediniskan dengan jelas, penilaian berkelanjutan, refleksi guru serta pengelolaan kelas yang efektif.

Perencanaan pembelajaran diferensiasi ini dimulai dengan mengkaji kurikulum hal ini penting dilakukan agar guru mendapat gambaran tentang kompetensi dasar yang akan dicapai, sehingga dapat menentukan indakator pembelajan serta tujuan pembelajaran yang tepat dan disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid yang akan diajar. Langkah selanjutnya adalah merancang penerapan dan strategi yang akan dilakukan dilakukan di dalam kelas baik itu proses pembelajaran dilakukan secara daring maupun luring.

Sebelum membuat rencana pembelajaran atau yang biasa kita sebut dengan istilah RPP, ada 3 aspek yang perlu dipahami dengan baik agar rencana pembelajaran diferensiasi yang dirancang sesuai dengan kebutuhan murid. Ketiga aspek tersebut yakni kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. Seorang guru tentunya bukan peramal yang dapat menebak secara langsung karakter muridnya, tentunya memerlukan berbagai pendekatan untuk mengetahui hal tersebut yakni dengan membuat pemetaan belajar murid yang mengacu pada ketiga aspek tersebut. Guru dapat melakukan wawancara langsung dengan murid, menggunakan kuisioner, equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson dan juga dapat dilakukan dengan pengamatan secara langsung. Pemetaan kebutuhan belajar murid dapat dikaitkan berdasarkan gaya belajar, minat murid terhadap suatu fenomena maupun tingkat pemahaman dalam materi tertentu.

Jika guru telah melakukan pemetaan terhadap kebutuhan murid maka akan lebih mudah dalam menetukan strategi dan langkah pembelajaran yang akan dilakukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Strategi pembelajaran diferensiasi ada 3 yaitu deferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten berupa materi apa yang akan diajarkan, guru dapat menyesuaikan dengan minat belajar murid. Misalkan dalam pembelajaran terkait melakukan wawancara guru dapat memberikan topik yang berbeda kepada muridnya misalkan ekonomi, kesehatan dan politik. Murid diberi kebebasan untuk memilik sesuai dengan minatnya. Diferensiasi proses terkait dengan skenario pembelajaran, dalam strategi ini guru dapat memberikan kegiatan yang berbeda untuk murid yang memiliki gaya belajar berbeda misalnya memberikan materi dalam bentuk podcast atau rekaman suara bagi murid yang auditori, memberikan gambar atau poster menarik bagi murid visual atau meminta murid yang kinestetik untuk berjalan melakukan pengamatan terkait materi yang dipelajari. Dalam pembelajaran diferensiasi juga memberikan kesempatan bagi murid untuk menentukan produk tugas yang akan dibuat sesuai dengan minat, kesiapan dan profil belajarnya, hal ini termasuk dalam strategi diferensiasi produk. Tugas yang diberikan kepada murid boleh tidak seragam dalam satu kelas misalnya semua murid harus membuat rangkuman materi secara tertulis, tetapi murid boleh memilih bentuk produk tugasnya bisa dalam bentuk tulisan, video bahkan dalam bentuk poster.

          Melihat gambaran mengenai pembelajaran diferensiasi akan memunculkan argument bahwa pembelajaran ini akan merepotkan guru karena harus memikirkan keberagaman murid. Diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua murid di dalam kelas setiap saat dan setiap waktu. Tetapi, guru memang diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

          Pada dasarnya pembelajaran ini bukan hal yang baru untuk kita terapkan karena murid sejak dulu telah memiliki karakter yang beragam. Tentunya selama ini dalam membuat rencana pembelajaran (RPP) guru telah memikirkan kebutuhan murid, hanya saja dalam pembelajaran berdiferensiasi ini dalam merencanakan pembelajaran lebih tergambar pada tujuan, langkah pembelajaran, materi, media, serta instumen penilaian terkait kebutuhan belajar murid.

Sesuai dengan tujuan pembelajaran berdiferensiasi yaitu guru semakin memahami tentang posisi belajar murid sehingga pembelajaran berdasar pada kebutuhan murid. Ketika menerapakan pembelajaran berdiferensiasi guru akan melihat keunikan pada murid dan tidak lagi berfokus pada dirinya sendiri. Maka mulailah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang nyaman dan menyenangkan bagi murid dan guru.

SALAM DAN BAHAGIA

 

RUSNILAWARNI

CGP KAB. BONE

SMAN 16 BONE

 


Saatnya Bekerja untuk Iklim: UPT SMA Negeri 16 Bone Tampilkan Inovasi dan Kampanye Pengelolaan Sampah pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

"Bumi tidak membutuhkan segelintir orang yang hidup sempurna dalam menjaga lingkungan, tetapi membutuhkan jutaan orang yang mau mulai p...