Kamis, 25 Maret 2021

 

KONEKSI ANTAR MATERI

COACHING

(RUSNILAWARNI_CGP KAB. BONE)

 

Selama ini kita merasa telah melakukan pendampingan yang baik saat mememui murid yang mengalami masalah, namun masih banyak yang tidak berhasil mencapai apa yang diharapkan. Hal ini tidak jarang membuat kita berputus asa dan menganggap murid yang gagal. Padahal cara kita yang masih belum maksimal. Setelah mempelajari materi terkait coaching dan model TIRTA saya lebih menyadari kesalahan yang terjadi selama ini, dan hal apa saja yang harus diperbaiki dan tingkatkan. Seorang guru harus paham betul perannya agar murid menjadi sukses dalam mencapai tujuan. Agar seorang guru sukses menjadi coach hal yang perlu dipahami dengan baik adalah bagaimana menjadi sefrekuensi dengan murid. Sefrekuensi dalam hal ini adalah menyeleraskan emosi, menyamakan bahasa dan memahami gestur coachee dengan baik. Olehnya seorang guru harus terus berlatih agar sukses menjadi coach.

Jika kita memahami makna yang terkandung dalam definisi coaching membawa kita pada pertanyaan, “Apakah dengan demikian coaching ini bisa diterapkan di dunia pendidikan sehingga bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik guru maupun murid?” Apakah guru dapat berperan sebagai coach? Mari kita sama-sama membahas bagaimana coaching ini diterapkan dalam konteks sekolah dan bagaimanakah peran guru sebagai coach.

Mengapa coaching ini perlu untuk diterapkan.

Mari kita kembali mengingat filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD). Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. 

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.

Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi  inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching.

Nah, langkah pertama apa yang harus dilakukan pada saat melakukan coching. Sebelum memulai tahapan coaching terlebih dahulu coach meminta persetujuan coachee apakah bersedia untuk melakukan kegiatan coaching ini. Kemudian menyakan perasaan coachee saat itu. Setelah memberikan 2 pertanyaan terbuka tersebut, barulah coach mulai melakukan tahapan TIRTA.

Tujuan Umum 

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee. Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Identifikasi

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
f. Apa solusinya?

Rencana Aksi

a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?

TAnggungjawab

a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

Berbagi Tips

Cara yang dilakukan coach  dalam memberi respon terhadap coachee yaitu terus memberi respon positif, yaitu dengan cara melakukan komunikasi asertif. Di mana pada komunikas dapat dilakukan dengan :

 

 

1.   Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

Kata-kata kunci biasanya merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.

Sebagai contoh, jika murid menggunakan bahasa dan istilah kekinian dalam bercerita, kita dapat juga menggunakan istilah yang dipakai ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi pernyataannya.

Misal: penggunaan kata Ohh yang menunjukkan bahwa coach paham apa yang  dikatakan coachee, atau pada saat coach menggunakan kata Nahh, yang saat coachee berhasil menemukan hal apa yang akan dilakukan, yang menunjukkan bahawa coach setuju.

2.  Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.

Coach dapat memberikan tanda setuju secara tidak langsung pada apa yang disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan. Jika coachee kita sedang bersandar ke lengan kursi misalnya, coach juga dapat mengikuti gerakannya. Ketika coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kita juga usahakan  mengikutinya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru.

Contoh pada video, coach akan terlihat tersenyum saat coachee menunjukkan mind mapping pada buku catatannya atau saat coach mengerakkan tangan saat menjelaskan tentang apa yang dimaksud mind mapping sehingga coachee menjadi lebih paham.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Contoh:

Coachee : “Saya memang perlu seseorang untuk membicarakan hal yang saya alami.”

Coach  : “Jadi apa nih yang bisa ibu bantu?”

Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.

 

Praktik caoching model TIRTA ini dapat dipraktikkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah. Tantangan utama adalah bagaimana menerapkan komunikasi asertif. Kendala dan tantang yang terkadang  muncul adalah masih kurang sabar dalam menjalin komunikasi dengan murid maupun orang lain, masih sering mengambil keputusan dan lebih aktif memberi solusi dibanding mengarahkan murid atau orang lain untuk menemukan sendiri langkah yang ingin diambil.

Demikian ulasan saya, semoga dapat menjadi menjadi tambahan infromasi .

Sukses untuk kita semua.

Salam dan Bahagia.

 

(Sumber : modul 2.3 coaching)



 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saatnya Bekerja untuk Iklim: UPT SMA Negeri 16 Bone Tampilkan Inovasi dan Kampanye Pengelolaan Sampah pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

"Bumi tidak membutuhkan segelintir orang yang hidup sempurna dalam menjaga lingkungan, tetapi membutuhkan jutaan orang yang mau mulai p...