KONEKSI
ANTAR MATERI
COACHING
(RUSNILAWARNI_CGP
KAB. BONE)
Selama
ini kita merasa telah melakukan pendampingan yang baik saat mememui murid yang
mengalami masalah, namun masih banyak yang tidak berhasil mencapai apa yang
diharapkan. Hal ini tidak jarang membuat kita berputus asa dan menganggap murid
yang gagal. Padahal cara kita yang masih belum maksimal. Setelah
mempelajari materi terkait coaching dan model TIRTA saya lebih menyadari
kesalahan yang terjadi selama ini, dan hal apa saja yang harus diperbaiki dan
tingkatkan. Seorang guru harus paham betul perannya agar murid menjadi sukses
dalam mencapai tujuan. Agar seorang guru sukses menjadi coach hal yang perlu
dipahami dengan baik adalah bagaimana menjadi sefrekuensi dengan murid.
Sefrekuensi dalam hal ini adalah menyeleraskan emosi, menyamakan bahasa dan
memahami gestur coachee dengan baik. Olehnya seorang guru harus terus berlatih
agar sukses menjadi coach.
Jika kita memahami
makna yang terkandung dalam definisi coaching membawa kita
pada pertanyaan, “Apakah dengan demikian coaching ini bisa
diterapkan di dunia pendidikan sehingga bisa mengoptimalkan sumber daya yang
ada, baik guru maupun murid?” Apakah guru dapat berperan sebagai coach?
Mari kita sama-sama membahas bagaimana coaching ini diterapkan
dalam konteks sekolah dan bagaimanakah peran guru sebagai coach.
Mengapa coaching ini perlu
untuk diterapkan.
Mari kita kembali mengingat filosofi Ki Hajar
Dewantara (KHD). Ki Hajar
Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau
hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab
itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala
kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai
manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid
diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’
dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar
kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.
Dalam
konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah
satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di
sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan
di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat
murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna
mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya,
proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi
guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam
belajar.
Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan
proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif
dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu,
pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid
lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan
potensi dan mengembangkannya.
Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang
berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah
yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat,
perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru.
Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching.
Nah,
langkah pertama apa yang harus dilakukan pada saat melakukan coching. Sebelum memulai tahapan coaching terlebih
dahulu coach meminta persetujuan coachee apakah bersedia untuk melakukan
kegiatan coaching ini. Kemudian menyakan perasaan coachee saat itu. Setelah
memberikan 2 pertanyaan terbuka tersebut, barulah coach mulai melakukan tahapan
TIRTA.
Tujuan
Umum
Seorang
coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih
coachee. Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam
pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:
a. Apa rencana pertemuan
ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?
Identifikasi
Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini
adalah:
a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih
tujuan?
f. Apa solusinya?
Rencana Aksi
a. Apa rencana kamu dalam
mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?
TAnggungjawab
a. Apa komitmen kamu
terhadap rencana aksi
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?
Berbagi Tips
Cara yang dilakukan
coach dalam memberi respon terhadap coachee yaitu terus memberi respon
positif, yaitu dengan cara melakukan komunikasi asertif. Di mana pada komunikas
dapat dilakukan dengan :
1. Menyamakan
kata kunci
Memperhatikan kata kunci
dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee.
Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan
coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.
Kata-kata kunci biasanya merupakan kata-kata
yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya
terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan
kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.
Sebagai contoh, jika murid
menggunakan bahasa dan istilah kekinian dalam bercerita, kita dapat juga
menggunakan istilah yang dipakai ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi
pernyataannya.
Misal: penggunaan
kata Ohh yang menunjukkan bahwa coach paham apa yang dikatakan coachee,
atau pada saat coach menggunakan kata Nahh, yang saat coachee berhasil
menemukan hal apa yang akan dilakukan, yang menunjukkan bahawa coach setuju.
2. Menyamakan
bahasa tubuh
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam
komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan
menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini
meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.
Coach dapat
memberikan tanda setuju secara tidak langsung pada apa yang disampaikan coachee dengan
senyum atau dengan anggukan. Jika coachee kita sedang
bersandar ke lengan kursi misalnya, coach juga dapat mengikuti
gerakannya. Ketika coachee sedang bersemangat bercerita dan
mencondongkan tubuhnya ke depan, kita juga usahakan mengikutinya.
Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar
coachee tidak merasa ditiru.
Contoh pada video, coach akan terlihat
tersenyum saat coachee menunjukkan mind mapping pada buku catatannya atau saat
coach mengerakkan tangan saat menjelaskan tentang apa yang dimaksud mind
mapping sehingga coachee menjadi lebih paham.
3. Menyelaraskan emosi
Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita
selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama
ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini
akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan
mengerti perasaannya.
Contoh:
Coachee : “Saya memang perlu
seseorang untuk membicarakan hal yang saya alami.”
Coach : “Jadi apa nih yang bisa
ibu bantu?”
Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi
baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.
Praktik caoching model TIRTA ini dapat
dipraktikkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah. Tantangan utama
adalah bagaimana menerapkan komunikasi asertif. Kendala dan tantang yang terkadang
muncul adalah masih kurang sabar dalam
menjalin komunikasi dengan murid maupun orang lain, masih sering mengambil
keputusan dan lebih aktif memberi solusi dibanding mengarahkan murid atau orang
lain untuk menemukan sendiri langkah yang ingin diambil.
Demikian
ulasan saya, semoga dapat menjadi menjadi tambahan infromasi .
Sukses
untuk kita semua.
Salam
dan Bahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar